Ternyata, menjadi seorang yang terbuka ga selamanya baik. Kadang, hal itu malah berbalik menyakiti kita. Sebenernya sejak awal aku udah menyadari. Aku juga heran apa yang ada dipikiranku sampai aku bisa masuk dalam kebodohan seperti ini. Aku, memang seorang introvert. Aku lebih suka menyimpan smua hal yang terjadi hanya untuk diriku sendiri. Ga guna buat dibagi sama orang lain. Tapi suatu saat, ada masanya dimana aku curhat dan menumpahkan semuanya kepada orang lain, and then aku ngerasa lega. Seperti ada orang yang benar-benar memahami aku. Kakak perempuanku satu-satunya, adalah sosok yang berhasil membuat aku mau berbagi sedikit kisahku. Yang berhasil meyakinkanku bahwa ga selamanya aku harus mendam semuanya sendiri. Lama, bertahun-tahun, sebelum akhirnya kakak berhasil meyakinkanku mengenai semua itu. Teman-teman yang paling aku percaya juga sosok yang berhasil membuat aku mau berbagi dengan orang lain. Tapi satu hal yang aku lupa, pada akhirnya aku berbagi karena aku nyaman dengan mereka. Aku nyaman dan merasa dipahami. Sekarang ini, aku sepenuhnya menyadari bahwa berbagi itu tak selalu indah. Ada masanya menjadi seorang introvert menguntungkan. Aku tak perlu mendengar makian orang lain. Pun tak perlu kecewa maupun sakit hati karena dianggap aneh oleh orang lain. Mungkin itu sebabnya agama melarang kita untuk mengumbar aib. Bukankan kisah yang ngga mengenakkan itu termasuk aib/sesuatu yang ngga layak dikonsumsi orang banyak? Curhat itu kan gabungan emosi. Kalau terselip emosi yang ngga mengenakkan, apa mungkin iya orang lain juga bisa nyaman dengernya. Mungkin mereka lebih milih ngga tau. Atau mikir 'aku udah susah, jangan ditambahin cerita ngga enakmu (baca: curhat)'. Itulah kekurangan manusia. Aku sadar ternyata aku lupa kalau aku seharusnya ngga lari ke manusia (baca: curhat) tapi seharusnya aku lari kepada Yang Maha Sabar Lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan begitu aku bisa leluasa cerita, apapun itu. Aku bisa lebih tenang tanpa denger komentar, apapun jenis komentarnya. Pada akhirnya, dengan berpulang pada Illahi Robbi, aku bisa menjadi seorang introvert yang lebih berbahagia dan terbuka dengan cara yang benar kepada orang lain.
Mungkin ini masa transisi dari seorang remaja labil menuju kepada tingkat kedewasaan. Suatu saat aku pasti bisa lebih tenang dan semuanya akan menjadi lebih stabil. I'm waiting and keep waiting for that day.
Mungkin ini masa transisi dari seorang remaja labil menuju kepada tingkat kedewasaan. Suatu saat aku pasti bisa lebih tenang dan semuanya akan menjadi lebih stabil. I'm waiting and keep waiting for that day.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar