Tampilkan postingan dengan label jeritan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeritan hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 April 2014

#ABABIL - abege labil

Tingkahnya manusia emang ada aja yah. Yang saya rasain dan bikin risi sekarang ini adalah orang yang gengsian tapi ngga punya modal, bisanya main comot ama klaim barang orang. Orang begitu itu iuh banget deh. Saya sih ngga peduli ya. Tapi karena berputar-putar disekitar sini aja dan berkesinambungan reseknya jadinya risi juga. Masak bawa barang orang ngga permisi, maen tanya aja dimana nyimpen itu barang abis gitu main dibawa aja gituh. Asik banget ngga tuh orang.
Saya bener-bener heran sama orang yang seperti itu. Bisa-bisa keluarga kandungnya sendiri ngga diakuin tuh saking gengsinya. Malah ngakuin kerabatnya sebagai keluarga inti atau meng-image-kan kerabatnya sebagai keluarga inti dilingkup pergaulannya ~ dan sepertinya dilingkup asmaranya pula. Itu karena kerabatnya lumayan berada lah. Durhaka tuh anak macam gitu. Ckckck.
Kayanya jaman sekarang makin banyak abege macam itu yah. Padahal saya saja jaman dulu ortu terutama umik ketat banget ama yang namanya hak dan kewajiban. Apa yang menjadi hak kita harus kita ketahui tapi kewajiban adalah untuk disadari dan ditaati. Karena keketatan itulah saya tumbuh menjadi pribadi yang seperti ini. Sejak dulu saya ngga suka setiap kali melihat seseorang yang ngga bisa mengenali hak dan kewajibannya. Oleh karena itu, semenjak menikah saya jadi frustasi karena kan suami saya belom lulus kuliah. Jadi semuanya masih dibawa handle orangtuanya. Dan oleh karena itu pula, kami jadi dikitari oleh kerabat-kerabatnya (jauh maupun dekat), teman-temannya, tetangganya, pokonya orang-orang baru dari pihak suami lah.
Ketemu banyak orang baru artinya saya makin sering bertemu karakter yang berbeda. Ada yang ngga tahu malu asal kenyang dan untung, ada yang ngga tahu malu asal kenyang tapi loyal setia kawan banget, ada yang diem tapi dibelakang nusuk, ada yang ngga punya ini-itu tapi sukanya minjem dan ngga dibalikin. Dan macam-macam lagi lah masalahnya.
Dulu itu suami saya polos banget. Saya aja ampe kesian. Waktu masih pacaran, tiap kali dia dimanfaatin orang saya cuman nanya ato ngingetin sekadarnya aja. Karena yah, siapalah saya lha wong baru pacar! Kalau saya marah-marah kan bisa dibilang sapa lo sapa gue. Idih, dia dulu yang ngejar-ngejar saya jadi Anda sekalian pasti mengerti tindakan saya ini lah ya. Hehe. Tapi ngga lama saya pacaran lagi ama dia setelah hampir 4 tahun putus dan miskomunikasi, eeh langsung nikah aja gitu.
Otomatis awal-awal pernikahan kami penuh gejolak. Apalagi dia dikitari orang-orang seperti itu. Dan dia membiarkan dirinya diapain aja ama mereka-mereka itu. Jadi intinya suami saya ini dulunya ngga ngeh ama hak dan kewajibannya serta hak dan kewajiban orang lain, mulai dari kerabat hingga teman. Dia terlalu melebih-lebihkan kewajibannya kepada oranglain dan hak orang lain terhadapnya. Ini juga yang bikin saya cinta ama kepolosannya yang aga absurd itu. :)
Setahun nikah baru saya lumayan bisa menggembleng dia bahwa ini lho haknya temenmu. Kalo kewajiban aduhhh mending kita aja yang nyadarin kewajibannya orang. Baru kalo orang itu berlaku diluar batas hak-haknya, kita perlu ngejejelin kewajiban-kewajibannya die. Enak aja minta hak terus-terusan. Magnet aja punya dua kutub. Ihh.
Sekarang ini yang aga sulit buat saya adalah menghadapi hal-hal yang berkenaan dengan hak dan kewajiban ini dengan orang-orang terdekatnya. Bukan bermaksud menjauhkan dia dari orang-orang terdekat, tapi supaya tidak ada masalah dikemudian hari. Supaya hidup ini balance dan supaya yang melebihi batas haknya itu lebih aware dan instropeksi dengan tindakannya. Toh itu juga demi kebaikannya si pelaku itu juga kan. Yah, kalo ada yang baca pos ini lantas merasa pernah berbuat demikian kepada orang lain, maaf saya bukan menyinggung Anda tapi please jadilah diri Anda sendiri dengan menjadi diri Anda yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Cheers!



Rabu, 25 Juli 2012

EGOSENTRIS PRIA, CELAH WANITA

kenapa ada feminisme? karena terlalu banyak lelaki sombong yang tidak sepadan dengan kedewasaannya sehingga menyakiti wanita-wantita yang berhati lembut itu ato mungkin lebih tepatnya lagi membuat muak. sebenarnya semua kerusakan itu ya akibat lelaki itu sendiri. *ga maksud dukung femin, cuma coba berkaca ajah
sekarang coba pikir dan lihat sekitar. lihat lagi laki-laki yang ada disekitar kita. mereka dengan rentang usia 20-30 tahun, adakah yang benar-benar dewasa? mungkin bisa dihitung dengan jari. kebanyakan dari laki-laki dengan rentang usia 20 sampai 25 tahun  -menurut pengamatan dan pengalaman saya-  mereka cenderung labil. selepas mereka dari masa remaja, mereka bingung dan merasa terlalu cepat untuk tiba-tiba saja menjadi dewasa. mereka merasa dituntut untuk menjadi dewasa karena mereka laki-laki. hal itu menyebabkan tekanan yang kuat dalam diri laki-laki sehingga seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mereka jadi labil dan kekanakan. sikap dewasa mereka hanya kamuflase.
Baru pada usia 25 sampai 30 tahun mereka mulai menyadari bahwa kedewasaan itu bukan tuntutan melainkan kewajiban yang melekat pada diri setiap orang yang growing up, dan tidak memandang batas gender. Disini mereka kaum lelaki mulai mempersiapkan diri dengan wisdom yang mereka dapatkan dari berbagai sumber: pengalaman, lingkungan atopun idealisme pribadi.
sedangkan wanita, dari sejak kecil mereka lebih pengertian, lebih bisa mendengarkan orang yang berbicara maupun berkeluh kesah. bukan saya memihak gender, tapi memang fitrah laki-laki dan perempuan seperti itu. kebanyakan perempuan manja karena dorongan perasaan mereka kuat sekali.
Allah Maha Adil. karena hal-hal diatas tentu saja wanita diberi hak dan kewajiban sebagai istri, dan laki-laki diberi hak dan kewajiban sebagai suami.
kebanyakan kasus yang ada dalam pernikahan, wanita mulai muak terhadap tingkah laku suaminya. mereka menganggap tidak ada solusi dan memutuskan untuk bercerai. suamipun merasa istrinya begini begitu, yang ga taatlah, apa lah.
padahal, Allah menciptakan laki-laki demikian dan wanita demikian dengan satuu solusi yang jelas: lakukan kewajiban satu sama lain, karena kewajiban yang satu adalah hak bagi yang lain. kewajiban suami adalah hak istri. kewajiban istri adalah hak suami.
jika mereka benar-benar muak satu sama lain, maka ingat ini semua adalah ketentuan Allah. suami harus ingat kalau kewajibannya bukan sebatas pada istrinya tapi juga pada Allah. begitu juga istri, kewajibannya pada suami harus dipertanggungjawabkan pada Allah kelak.
kesombongan laki-laki hanya dapat benar-benar diruntuhkan apabila mereka ingat pada Allah SWT. bukankah tiada lagi yang patut sombong selain Dia Yang Maha Kuasa.
saya juga masih mencoba bertahan dan menjalani kehidupan rumahtangga dengan seorang lelaki yang masih labil dan tidak dewasa. meski demikian, saya berusaha untuk selalu mengingat Allah karena Dia-lah penguat hati dan tekad saya.
semoga share kali ini dapat memberikan masukan positif untuk ladies and gentlemen sekalian.

Senin, 05 Desember 2011

Aku dan Perasaanku :))

Heran ya aku ini. Kuliah gampang gitu kok ngulang mulu. Ga mau aku kalo dibilang gagal. Ngulang tuh bikin ilmunya tambah lengket dipikiran. Cuman, buang-buang waktu cuy! Sumpritt geblek banget. Yah, moga aja sih semester ini gg ada yang ngulang. Capek ane.
Kuliah tuh seneng, dapet ilmu. Padahal cuman duduk aja (ini versi pelajar malas loh, hahahaa). Tapi entah, jadi galau rasanya. Hilang prestasiku. Padahal kalo bole narsis (bilang aja sombong! :D) dulu aku banyak banget dapet manfaat dari sekolah. Manfaat yang nyata yang bisa diliat lewat piagam, kegiatan en hal-hal lain yang bermanfaat.
Tapi emang dasarnya aku kurang bisa bertanggungjawab sih. Heey! I've forced myself to be a better ME. Masalahnya sekarang aku jadi agak ga semangat. Kacau nih. Kurang support. Jadi berabe. Kudu fokus! Fokus! Fokus! Pelajaran yang aku petik: kalo mau berkomitmen ma sesuatu, pastikan si husband seiya sekata. Jadinya bisa saling mendukung.
Huuuuuf, galauers tingkat dewa!