Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2013

Catatan Ramadhan 2013 Part 1

Ramadhan taun ini, hmmm, apa yah yang spesial? Aku tetep jalanin ramadhan dirumah mertua didesa bareng sama Ibrahim ama suami. Yang paling berkesan mungkin kedewasaan dan keharmonisan yang mulai stagnan antara aku dan suami. Cie ciee. Iyalah, setelah masa-masa sulit penuh adaptasi, teriakan, pertengkaran, air mata dan emosi itu, aku bersyukur dalam waktu singkat bisa sampai pada kondisi rumahtangga seperti sekarang ini (baca postingan terdahulu aku yang ababil, hehe). Aku lebih tenang, suamiku lebih tenang and dampaknya: Ibrahim tumbuh dengan baik dan normal. :)
Do you want to see him? Mungkin ada yang teriak enggak, tapi aku bagi aja deeeh.:p









Cute, yes? :D
He is sooo awesome!
He can walk in his 10 months.
He's being sooo talkative since one and a half years!
I loove him! ♥

Jumat, 09 Desember 2011

Pelukan Hangat :-)

Lalalalalalala! Bahagianyaa hati ini. Yang tadinya sebel, jengkel, capek, ga keruan rasanya. . hilang waktu dipeluk suami. Waktu ketemu masih sebel. Habisnya, ga dijemput sih di stasiun. Padahal uda janji. Tapi jadi beda aja rasanya waktu berpelukan kaya teletubbies! :D Rasanya, nyaman. Damai. Aman. Menguatkan. Yah, itu kali ya yang namanya cinta. Setelah merhatikan sini situ, saya jadi dapat kesimpulan sekilas tentang cinta. Kurang lebih cinta itu menguatkan. Memberi kenyamanan dan kedamaian.
Saya merasa bangga dengan apa yang bisa saya rasakan terhadap suami saya. Karena menurut saya, hal ini akan semakin memperkuat jalinan hati kami berdua. Saya bangga, saya dianugerahi seorang suami yang bisa benar-benar mencintai saya. Meskipun dia belum mampu mencintai saya dengan benar, saya yakin sebentar lagi akan tiba saatnya suami saya menjadi seorang lelaki matang, pria matang, suami yang matang dan seorang ayah yang matang. Terlepas dari segala kekurangannya, saya percaya dia bertekad membahagiakan saya. Pun saya percaya dia akan menjadi ayah yang hebat bagi Ibrahim. Tugas sayalah untuk mengamati dan membantunya mengarahkan bahtera ini. Terutama disaat dia hilang arah seperti sekarang ini.
Saya belum mampu menyatakan bahwa ikatan batin kami berdua sebegitu kuatnya. Hanya saja saya dapat memastikan bahwa kami sedang menuju kesana. Tugas saya selanjutnya dan selamanya adalah, menguatkan ikatan batin antara kami dan Ibrahim - anak yang mamah papahnya masih belajar rumah tangga. Semoga kelak, kami bertiga bisa hidup bahagia bersama dan tidak kekurangan satu apapun. Amin. Diberi banyak limpahan rejeki jasmani rohani. Amin. Diberi kekuatan menuju surga. Amin. Dan diberi anugerah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Amin ya Rabb.

xoxo, ♥

Ridha Amalia

Senin, 05 Desember 2011

Aku dan Perasaanku :))

Heran ya aku ini. Kuliah gampang gitu kok ngulang mulu. Ga mau aku kalo dibilang gagal. Ngulang tuh bikin ilmunya tambah lengket dipikiran. Cuman, buang-buang waktu cuy! Sumpritt geblek banget. Yah, moga aja sih semester ini gg ada yang ngulang. Capek ane.
Kuliah tuh seneng, dapet ilmu. Padahal cuman duduk aja (ini versi pelajar malas loh, hahahaa). Tapi entah, jadi galau rasanya. Hilang prestasiku. Padahal kalo bole narsis (bilang aja sombong! :D) dulu aku banyak banget dapet manfaat dari sekolah. Manfaat yang nyata yang bisa diliat lewat piagam, kegiatan en hal-hal lain yang bermanfaat.
Tapi emang dasarnya aku kurang bisa bertanggungjawab sih. Heey! I've forced myself to be a better ME. Masalahnya sekarang aku jadi agak ga semangat. Kacau nih. Kurang support. Jadi berabe. Kudu fokus! Fokus! Fokus! Pelajaran yang aku petik: kalo mau berkomitmen ma sesuatu, pastikan si husband seiya sekata. Jadinya bisa saling mendukung.
Huuuuuf, galauers tingkat dewa!


Selasa, 01 November 2011

Curhat

Momo uda dibawa ke bengkel. Sekarang bonsai butuh lebih banyak duit lagi buat nyelesin momo en nyiapin buat acara taon baru ntar. Ga tau ya apa yang ada di pikirannya bonsai. Emang dia masih muda, itu hobinya, jadinya ya gini deh, obsessed. Aku sebagai istri yang lebih ngerti (emang kenyataan kok) nyadari jiwa mudanya. Aku sebel coz smua ini bisa berantakin anggaran rumah tangga, tapi aku juga lega dia main2 motor, bukan main2 cewe lain kayak kebanyakan lelaki yang nikah muda disekitarnya. Ckckck.

Jumat, 29 Juli 2011

My Introvert Things: Bad or Better (?)

Ternyata, menjadi seorang yang terbuka ga selamanya baik. Kadang, hal itu malah berbalik menyakiti kita. Sebenernya sejak awal aku udah menyadari. Aku juga heran apa yang ada dipikiranku sampai aku bisa masuk dalam kebodohan seperti ini. Aku, memang seorang introvert. Aku lebih suka menyimpan smua hal yang terjadi hanya untuk diriku sendiri. Ga guna buat dibagi sama orang lain. Tapi suatu saat, ada masanya dimana aku curhat dan menumpahkan semuanya kepada orang lain, and then aku ngerasa lega. Seperti ada orang yang benar-benar memahami aku. Kakak perempuanku satu-satunya, adalah sosok yang berhasil membuat aku mau berbagi sedikit kisahku. Yang berhasil meyakinkanku bahwa ga selamanya aku harus mendam semuanya sendiri. Lama, bertahun-tahun, sebelum akhirnya kakak berhasil meyakinkanku mengenai semua itu. Teman-teman yang paling aku percaya juga sosok yang berhasil membuat aku mau berbagi dengan orang lain. Tapi satu hal yang aku lupa, pada akhirnya aku berbagi karena aku nyaman dengan mereka. Aku nyaman dan merasa dipahami. Sekarang ini, aku sepenuhnya menyadari bahwa berbagi itu tak selalu indah. Ada masanya menjadi seorang introvert menguntungkan. Aku tak perlu mendengar makian orang lain. Pun tak perlu kecewa maupun sakit hati karena dianggap aneh oleh orang lain. Mungkin itu sebabnya agama melarang kita untuk mengumbar aib. Bukankan kisah yang ngga mengenakkan itu termasuk aib/sesuatu yang ngga layak dikonsumsi orang banyak? Curhat itu kan gabungan emosi. Kalau terselip emosi yang ngga mengenakkan, apa mungkin iya orang lain juga bisa nyaman dengernya. Mungkin mereka lebih milih ngga tau. Atau mikir 'aku udah susah, jangan ditambahin cerita ngga enakmu (baca: curhat)'. Itulah kekurangan manusia. Aku sadar ternyata aku lupa kalau aku seharusnya ngga lari ke manusia (baca: curhat) tapi seharusnya aku lari kepada Yang Maha Sabar Lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan begitu aku bisa leluasa cerita, apapun itu. Aku bisa lebih tenang tanpa denger komentar, apapun jenis komentarnya. Pada akhirnya, dengan berpulang pada Illahi Robbi, aku bisa menjadi seorang introvert yang lebih berbahagia dan terbuka dengan cara yang benar kepada orang lain.
Mungkin ini masa transisi dari seorang remaja labil menuju kepada tingkat kedewasaan. Suatu saat aku pasti bisa lebih tenang dan semuanya akan menjadi lebih stabil. I'm waiting and keep waiting for that day.